Rupang Buddha dan Tangga Batu


stone-15-01-600

Dahulu kala, di suatu daerah terdapat sebuah kuil yang dibangun diatas sebuah gunung yang terkenal. Dalam kuil tersebut terdapat sebuah rupang Buddha yang telah dipahat dengan sangat baik. Setiap hari tak terhitung banyaknya pria dan wanita berbudi yang menaiki ratusan anak tangga tersebut untuk berdoa, memohon maupun membakar dupa di kuil tersebut. Kuill tersebut selalu dipenuhi orang-orang yang taat beribadah dari hari ke hari dan tahun ke tahun.

Suatu malam, rupang besar Buddha dan tangga batu tersebut saling bertatapan. Salah satu anak tangga tidak dapat menahan emosinya lagi dan mulai mencurahkan isi hatinya:

“Rupang Buddha, kita semua adalah batu, tetapi mengapa saya diinjak, sementara kamu dipuja dan dihormati di dalam sebuah kuil di puncak gunung?”

Keluhan anak tangga tersebut memicu kemarahan yang terpendam dari anak-anak tangga lainnya. Mereka pun ikut memarahi rupang Buddha tersebut.

Rupang Buddha tersenyum pada anak-anak tangga dan mengatakan dengan penuh welas asih, “Ketika kalian dibuat menjadi tangga dari batu, kalian hanya merasakan enam kali proses pemotongan, sementara saya menjadi seperti bentuk saya saat ini setelah melalui ribuan kali proses pemotongan, pengasahan dan pemahatan!”

Sebuah batu biasa dapat menjadi batu berharga setelah menahan suhu tinggi dan tekanan dalam jangka waktu tertentu; rupang Buddha dapat mencapai kesempurnaan setelah melalui banyak proses pemahatan. Demikian juga dengan kita yang perlu berusaha dan melalui berbagai kesulitan sebelum menjadi sempurna.

Translation by Chengnuan     Illustration by Amber Zhong